“Kuningan —sebuah kawasan di bilangan Jakarta Selatan— banjir di bulan Juli, never in my wildest dream. Krisis iklim itu nyata dan makin deket,” tulis pegiat tata kota @stravenues dalam akun X-nya.
“Bulan Juli bisa banjir, emang pertanda krisis iklim,” tulis aktivis transportasi publik Adriansyah Yasin Sulaeman dalam akun X @adriansyahyasin.
“Biasanya Jakarta banjir itu di awal tahun (up to Maret lah). Lah ini bulan Juli, yg bahkan ‘seharusnya’ nggak ujan. 1. Climate change 2. Urban planning,” tulis warganet bernama Zakka Fauzan dalam akun X @zakkafm.
Tiga suara berbeda—seorang pegiat tata kota, aktivis transportasi publik, dan seorang warganet—berkumpul dalam satu kesimpulan: banjir di Jakarta pada bulan Juli adalah alarm nyata dari perubahan iklim.
Musim kemarau yang semestinya kering justru diguyur hujan ekstrem, sehingga membuat kawasan sibuk seperti Kuningan, Jakarta Selatan tergenang air. Fenomena yang dulu dianggap mustahil kini menjadi bagian dari keseharian yang mengganggu.
Di balik curahan emosi dan kekagetan itu, tersirat kekhawatiran kolektif bahwa krisis iklim bukan lagi wacana masa depan. Ia telah hadir, menjungkirbalikkan prediksi cuaca dan menantang logika perencanaan kota.
