#Artikel

BNN: Kampus Punya Posisi Strategis sebagai Laboratorium Peradaban Hadapi Infiltrasi Narkotika

Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menegaskan kampus memiliki posisi strategis sebagai “laboratorium peradaban” sebagai benteng pertahanan utama dalam menghadapi infiltrasi narkotika.

“Kelompok usia produktif dan akademisi menjadi sasaran empuk yang paling rentan terhadap ancaman ini. Pada rentang usia 15–24 tahun (usia pelajar dan mahasiswa), angka prevalensi bahkan mencapai 2,53 persen,” ucap Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Selasa (2/6/2026).

Ia menyebutkan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia yang kini telah menyentuh 2,11 persen atau mencakup sekitar 4,15 juta jiwa. Dikatakan bahwa narkotika kini bergerak lebih senyap melalui media sosial, transaksi digital, hingga tersamarkan dalam produk gaya hidup modern.

Ia menyebut salah satu fenomena mengerikan saat ini berupa penyalahgunaan rokok elektrik atau vape sebagai media untuk menyelundupkan zat narkotika, seperti ganja sintetis, metamfetamina, hingga obat bius etomidate.

Menanggapi ancaman zat baru (New Psychoactive Substances/NPS) tersebut, BNN terus memperkuat pembuktian berbasis ilmiah (scientific crime investigation) serta mendorong regulasi ketat, seperti diterbitkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025 yang resmi menetapkan etomidate sebagai narkotika golongan 2 sejak akhir tahun lalu.

Untuk itu, menghadapi momentum bonus demografi (2025–2045), Kepala BNN mengingatkan agar ledakan usia produktif tidak berubah menjadi bencana demografi akibat rusaknya kualitas sumber daya manusia oleh narkotika.

Related Posts

#PILIHANEDITOR

Share