Kepri.polri.go.id- Hari buruh internasional atau May Day yang jatuh pada 1 Mei hari ini, memiliki rentetan sejarah yang panjang dari perjuangan para buruh atau pekerja.
Berikut sejarah panjang May Day dilansir IniSumedang.Com dari berbagai sumber, pada 1 Mei 1886 atau 134 tahun yang lalu, dimana puluhan ribu buruh di Amerika Serikat, persisnya di Haymarket, Chicago melakukan aksi turun ke jalan bersama anak dan istri. Aksi itu membuat Kota Chicago lumpuh.
Waktu itu, para buruh di Amerika serikat protes, sebab diperlakukan tidak adil oleh perusahaan, tempat mereka bekerja. Selain diupah kecil, para buruh juga diwajibkan bekerja 10-12 jam setiap harinya.
Aksi itu berujung rusuh dan sampai menggemparkan dunia. Organisasi-organisasi buruh di berbagai negara prihatin dan Kongres Sosialis Internasional II pun digelar di Paris, pada Juli 1889 untuk merespons kasus di Amerika serikat itu.
Kongres tersebut lalu menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh internasional dan hari liburnya para buruh di belahan dunia.
Di Indonesia, peringatan hari buruh dimulai di era kolonial pada 1 Mei 1918 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee. Gagasan mengenai hari buruh di Indonesia muncul setelah tokoh kolonial, Adolf Baars mengkritik harga sewa tanah milik kaum buruh yang terlalu murah untuk dijadikan perkebunan. Di samping itu, para buruh bekerja dengan upah yang tak layak.
Era Orde Baru Perayaan Hari Buruh Dilarang Keras Karena Identik Dengan Paham Komunis
Pascakolonial, sejarah hari buruh juga muncul pada era kemerdekaan. Pada 1 Mei 1946 sejarah mencatat Kabinet Sjahrir justru menganjurkan peringatan ini. Lewat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1948 diatur bahwa tiap 1 Mei buruh boleh tidak bekerja.
Undang-undang tersebut juga mengatur perlindungan anak dan hak pekerja perempuan. Sayangnya, di era orde baru perayaan hari buruh dilarang keras karena identik dengan paham komunis.
Pada masa Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu. 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi.
Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.
Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis.
Namun, setelah Soeharto lengser dan masa era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.
Kemudian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejak 1 Mei 2013, tanggal 1 Mei menjadi hari libur nasional.
sumber :IniSumedang.Com
Editor : Joni kasim
Publish : Nora
Penulis : Firman